Promo Album Review: Bangkitnya Kembali Karya dari Nalar Neraka

album

Promo Album Review: Bangkitnya Kembali Karya dari Nalar Neraka

Setelah absen beberapa tahun dalam membuat sebuah karya, Forgotten kembali promo album dan menggebrak ranah bawah tanah.

Baru satu hari setelah saya bertemu dengan Addy Gembel. Kemarin, kami berbincang tentang banyak hal, termasuk tentang materi-materi dari beberapa band berlirik dan bernada manis yang menjamur di negeri ini. Lebih kurang, seperti ini pembicaraan kami:

Addy Gembel: “Sepertinya, personil band ini hidupnya gak pernah ada masalah, ya? Seadanya masalah pun hanya seputaran diputusin pacar dan susah lulus kuliah. Kayaknya, mereka gak pernah terlibat di penyalahgunaan drugssex before married, atau dikejar beberapa orang untuk digebukin sampai menuju mati.”
Saya: (tertawa) “Tapi, banyak juga sih, Pak, band-band yang hidupnya baik-baik aja.”
Addy Gembel: “Kalau gitukenapa negara ini gak maju-maju, ya? Atau mungkin masalah negara ini adalah mereka-mereka?” (tertawa)
Saya: (kembali tertawa) “Mereka pun mungkin bilang hal yang sama ke Forgotten. Mereka mungkin bilang begini ‘ini band kok menggerutu aja terusgak ada bersyukur-bersyukurnya.’”
Addy Gembel: terbahak-bahak dan mengumpat saya.

Tapi, memang benar. Kapan kita pernah mendengar Forgotten mengumandangkan kalimat-kalimat yang nyaman didengar dalam pola musik yang mudah dicerna? Seolah-olah, Forgotten membentuk standarisasi dalam pengolahan konsep musik mereka sendiri, di mana isi dari standarisasi itu adalah dilarang lupa untuk kritis, dilarang berpikir positif, dan buatlah musik yang mewakili amarah juga rasa muak semua orang.

Secara garis besar, itu lah hal yang saya tangkap dari album-album Forgotten sejak dirilis di akhir tahun ‘90an. Dimulai dari Future Syndrome (1997/Palapa Records), Obsesi Mati (2000/Extreme Soul Productions), Tiga Angka Enam (2003 & 2008/Rottrevore Records), hingga Laras Perlaya (2011/Rock Records). Tahun ini, Forgotten kembali masuk dapur rekaman untuk menggarap album terbaru bertajuk Kaliyuga. Addy Gembel sempat memberi CD promo untuk saya review. Hal pertama yang saya lakukan adalah bersiap-siap untuk terjun bebas ke utopia neraka.

“Tumbal Post Kolonial”, “Berhala Kelas Kuasa”, dan “Terlaknat” adalah judul dari tiga lagu yang ada dalam promo album Forgotten. Album ini dirilis oleh Sulung Extreme Musick Records (SEM Records), yang berlokasi di Samarinda, Kalimantan Timur. Saya sempat menanyakan tentang hal ini pada Addy Gembel, “kenapa harus jauh-jauh ke pulau seberang untuk merilis album?”. Addy Gembel menjawab, “mereka mau, antusias, bermodal besar, ya kenapa tidak?”. Jawaban yang realistis, sangat Addy Gembel, dan kasus ditutup.

Post a Comment