close

bersinar

News

Syd Barret, Berlian Sinting Yang Terus Bersinar

Selain disebut sebagai penulis lirik yangsyd3-1451063254
jenius dan orisinil, Syd Barrett juga
dianggap seorang gitaris yang inovatif.
Ia termasuk pelopor dalam hal memainkan
sound yang sonikal serta mengembangkan
bunyi distorsi, feedback dan echo machine.
Ia juga turut memasukkan layer-layer bernada
noise dan ambience pada setiap komposisi
musik Pink Floyd.

Gaya khas Syd Barrett di panggung adalah menggesekkan korek api Zippo pada fret gitar
Fender Esquire-nya, sehingga menimbulkan bunyi sound yang aneh dan misterius, serta
menjadi karakter musik Pink Floyd di jamannya.

Salah satu permainan gitarnya yang istimewa terdapat dalam lagu “Interstellar Overdrive”.
Karya yang diyakini para kritikus musik sebagai adaptasi kord atas karya Burt Bacharach dan
Hal David, “My Little Red Book”. Nomor itu ia mainkan dalam struktur sound gitar yang
mengawang dalam durasi hampir 10 menit.

Pengaruh musik Syd Barrett terhadap generasi musisi sejak era 60-an bisa dikatakan cukup besar. Paul McCartney dan Pete Townsend termasuk dua orang fans-nya sejak awal – selain Jimmy Page, David Bowie, dan Brian Eno. Pete Townsend sendiri sangat mengagumi Syd Barret dan menyebutnya sebagai (gitaris) legendaris. Pentolan band The Who itu malah pernah meyakinkan Eric Clapton untuk menyimak aksi frontman band Pink Floyd tersebut.

Tumbang di era neurotik

syd2-1451063376 Di saat popularitas Pink Floyd sedang
menanjak, kondisi mental Syd Barrett mulai
terganggu akibat konsumsi drugs (acid) yang
berlebihan. Efek dari pemakaian obat-obatan
jenis psikotropika (LSD) itu bikin aksinya
pada setiap pertunjukan Pink Floyd menjadi
berantakan. Tingkahnya menjadi tidak
terkontrol dan susah dikendalikan.
Perilakunya itu mulai membuat cemas
rekan-rekannya, serta berpengaruh pada
kelangsungan karir Pink Floyd.

Sebenarnya ada banyak spekulasi mengenai kondisi mental Syd Barrett saat itu. Beberapa percaya bahwa ia mengidap gangguan semacam skizofrenia. Sebagian lagi mengatakan ia terkena Asperger’s Syndrome, sebuah penyakit yang erat kaitannya dengan autis. Namun pada dasarnya, kebiasaan Syd Barrett yang sejak awal ’60-an sudah mengkonsumsi drugs itulah yang diyakini sebagai sumber utama dari semua itu.

Kondisi Syd Barrett yang labil dan kontra-produktif itu akhirnya tidak bisa didiamkan lagi
oleh teman-temannya di band. Akhirnya pada bulan Maret 1968, Roger Waters dkk dengan sangat terpaksa menghentikan segala perannya – baik untuk sesi studio maupun konser. Itu sekaligus menjadi sebuah statemen resmi mengenai akhir karir Syd Barret bersama
Pink Floyd.

Tetap membayangi Pink Floyd

syd4-1451063416 Sekian tahun selanjutnya, ada fakta yang
tidak dapat disembunyikan kalau sosok Syd
Barrett terus mengusik benak Roger Waters
dkk, serta memberi pengaruh yang kuat
pada penciptaan karya Pink Floyd
berikutnya. Sosoknya yang unik, kejeniusan
bermusiknya, beserta gangguan mentalnya
diakui oleh para personil yang lain menjadi

inspirasi utama pada materi tiga album tersukses Pink Floyd, Dark Side of The Moon (1973), Wish You Were Here (1975) dan The Wall (1979).

Roger Waters mengambil sisi neurotik dan kondisi mental Syd Barrett sebagai inspirasi utama
ketika menggarap Dark Side of The Moon. Bahkan album Wish You Were Here memang dibuat khusus sebagai penghargaan dan rasa rindu mereka terhadap Syd Barrett.

Lagu “Shine On You Crazy Diamond” yang jadi track pembuka dan penutup di album Wish You Were Here merupakan syair yang mengingatkan Roger Waters dkk kepada talenta mantan leader mereka. Begitu juga dalam video The Wall (1982), karakter utama Pink juga diakui Roger Waters banyak diadaptasi dari perilaku dan kepribadian Syd Barrett ketika masih bersama di Pink Floyd.

Mewariskan spirit yang abadi

syd1-1451063440 Pada hari Jumat, 7 Juli 2006, mendadak
muncul kabar bahwa Syd Barrett meninggal
dunia akibat komplikasi diabetes di usia 60
tahun. Hari itu menjadi akhir hidup dari
seorang pria yang ikut melahirkan bahkan
memberi nama Pink Floyd, salah satu grup
band sekaligus brand terhebat dalam
sejarah musik rock dunia.

Jika kita mau menyadari, sebenarnya duniasudah sekian lama kehilangan seorang Syd Barrett. Tepatnya sejak tahun 1973, ketika Syd Barrett memilih untuk menjauh dari kehidupan bermusik, mengasingkan diri, serta tidak mau berbicara lagi kepada publik.

Ini persis seperti yang ditulis dalam salah satu artikel kematian Syd Barrett, “In truth, he was
gone long ago. Still, Barrett’s death feels like another significant nail in the coffin of rock & roll’s free -spiritedness – a loss that transcends his actual recorded output.”

Setelah berita kematian Syd Barrett, seorang penyiar BBC Radio 2, Bob Harris, berujar singkat, “Saya selalu percaya semangat Syd akan selalu hidup dalam Pink Floyd, dan pada apapun yang dilakukan oleh personilnya sekarang.”

Sedangkan musisi Graham Coxon sempat menuliskan komentarnya untuk album kompilasi
yang dirilis sebagai penghargaan bagi Syd Barrett. “Ada sebagian (sifat) dari Syd di dalam diri
setiap orang…” Ujar gitaris Blur tersebut. “Yaitu perasan sensitif dan keterbukaannya…”

Seorang aktor kawakan Johnny Depp memiliki obsesi yang pernah ia sampaikan dalam sebuah wawancara di tahun 2005, “Ketika saya remaja, saya bermimpi ingin menjadi seorang gitaris rock n’ roll. Dan untuk saat ini, saya rasa sebuah film tentang kisah Syd Barrett akan menjadi ide yang baik!”

Penghormatan untuk Syd

Semua orang mungkin tidak akan pernah melupakan satu-satunya konser reuni Pink Floyd di
era milenium – yang mungkin tidak akan pernah terjadi lagi. Hari itu, 2 Juli 2005, untuk
pertama kalinya setelah 24 tahun, kubu Roger Waters dan kubu Pink Floyd (David Gilmour dkk) mau rujuk dan tampil bersama dalam Live 8 Concert di Hyde Parks London.

Dalam konser bersejarah itu, sesaat sebelum menyanyikan lagu “Wish You Were Here”, Roger Waters berjalan pelan mendekati microphone dan berkata kepada ribuan penonton yang hadir, “Sangat emosional sekali bisa berdiri di lapangan ini bersama ketiga rekan saya setelah sekian lama. Anyway, kami melakukannya untuk orang-orang yang sedang tidak berada di tempat ini, dan tentunya…untuk Syd.”

Sumber : http://supermusic.id/supericon/syd-barrett-berlian-sinting-yang-terus-bersinar

read more